Make your own free website on Tripod.com
Seirin Kotogakko
(SMA Seirin)

written by Yanie



Characters


Nana Hayashi : Tokoh utama/periang, optimistik, agak egois, fotografer kor-sek


Shige Katayama : Cakep, konyol, kocak, periang, lemot, kalo kelewat excited ngomongnya gak beraturan (ampe dia sendiri gak ngerti dia ngomongin apa)/kakak kelas/ex-fotografer kor-sek


Hiroki Minekura : Tampang keren, gayanya cool, PD-nya tebel, GR-an/drummer/kakak kelas


Hotaru Suzuki : Sahabat Nana/kadang kalem, tapi bisa 'error' juga, nggak percaya cinta/reporter kor-sek


Miyu Amamiya : Sahabat Nana/cerewet kalo lagi seneng, suka meledak2, tapi kalo 'down' bener2 diem anteng/editor kor-sek


Seara Yoshioka : Sahabat Nana/optimistik, hobi ama yg romantis2/layout designer kor-sek


Tetsuya Hayashi : Kakak pertama Nana/penyanyi club2 & cafe/lulusan jurusan Teknik Informatika, tapi gak pernah kepake'


Saeki Hayashi : Kakak kedua Nana/pengusaha sukses dan sering bolak-balik Tokyo-LA


Takahashi Haehara : naksir Seara/satu angkatan
 

Author's Notes : Kenapa gue bikin cerita ber-setting Jepang? Itu karena : awalnya, gue emang bikin cerita ini dengan setting Indonesia...SMA khas Indo dengan bhs2 gaulnya, tapi entah kenapa gue merasa nggak 'sreg' dan keliatannya jadi norak, lagipula cerita gue itu jadi mengingatkan gue sama "sinetron"!>_<'
Karena itu, sampe gue nemuin suasana yg pas buat cerita setting Indo gue...sementara ini cerita gue based on Japan dulu...=P
Dan, kalo loe liat diatas itu gambar2 asal comot dari internet, biar loe gampang aja mem-visualisasi-kan karakter2nya ^_^ Nggak asal comot, sih, gue pilih2 juga =P Dan, emang beberapa diantaranya terkenal(Ryoko Hirosue, Takashi Kashiwabara, Takeshi Kaneshiro, Yutaka Takenouchi, Takuya Kimura) >=P
Dan, berhubung jadwal padat sang penulis akhir2 ini, setelah chapter 4, ceritanya jadi lompat-lompat alias cuman potongan2 adegan2 yg penting2 doang sampe ending! Soalnya, kalo nungguin gue nulis SEMUANYA....bisa2 kuliah tahun ke-2 gue baru selese nulisnya!!^_^ Sekarang, silahkan membaca!



Chapter 1

Soal-soal rumit itu berputar-putar di kepala Nana. Bolak-balik ia hanya mencoret-coret kertas tanpa makna. Jalan buntu, pikirnya. Setelah mencari jumlah mol, apalagi yang harus aku cari? Ahhh!! Aku bisa gila dibuatnya!
Ia berusaha mencari alternatif lain yang bisa dibilang ilegal. Kepalanya celingukan mencari lokasi Pak Yamada berdiri. Ah! Beliau mengawasi seluruh kelas dengan ketat! Tidak mungkin bisa minta bantuan Hotaru. Tiba-tiba pandangan mata Pak Yamada berubah ke arah Nana, kacamatanya terlihat berkilau sekejap terkena sinar matahari dari jendela.
Nana langsung melihat ke arah lain, pura-pura berpikir. Pak Yamada berjalan melewati Nana menuju ke depan kelas. Selagi Pak Yamada lengah, secepat kilat Nana langsung menoleh ke arah belakang, ke arah Hotaru yang duduk di barisan sebelah kanan Nana dan dua kursi di belakang Nana.
"Ssst....Hotaru-chaan.... " Nana memandang Hotaru dengan pandangan penuh harapan dan memelas.
Ketika, Hotaru akhirnya melihat ke arah Nana, tiba-tiba, "Nona Hayashi!!"
Nana tersentak.
"Ada masalah?" Pak Yamada tersenyum sinis.
"A...eehhh....ti..tidak ada, pak...saya hanya meminta kembali penghapus saya yang dipinjam Hotaru..." Nana mencoba tersenyum sopan.
"Ohh, begitu! Yang di meja itu apa?" Pak Yamada menunjuk ke arah meja Nana, dimana penghapus itu berada.
"Ahhhh!!! Ternyata penghapus saya ada disini, pak!! Tadi tidak terlihat...eheh, iya, begitu!" Nana menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir, alasan palsu yang paling tidak dapat dipercaya sepanjang sejaraaahh!!!

***

Krriiingg!!!
"Yak!! Kumpulkan!" Pak Yamada menginstruksikan. Setelah mengumpulkan kertas masing-masing, Nana dan Hotaru berjalan lesu keluar dari kelas.
"Aduuuh, aku pasti dapat jelek lagi!!" kata Nana setengah berteriak.
"Apalagi aku..." Hotaru menunjuk hidungnya.
"Ahhh, kalau Hotaru, sih tidak perlu dikhawatirkan! Hotaru kan gadis yang sangat rajin!"
"Rajin apanya? Tadi malam aku tidak belajar dengan serius!"
"Yaaahh, walaupun tidak belajar...kalau Hotaru aku yakin pasti bisa mengerjakan..."
"Apanya yang mengerjakan!!" Hotaru kesal.
"Eh? Kenapa kau jadi marah? Dari tadi kan aku memujimu..."
"Karena itu...bukan kenyataannya!!" Hotaru berjalan mendului Nana.
"Aneh...dibilang anak rajin malah marah....." Nana bingung.

Seara dan Miyu sudah menunggu di meja yang biasa mereka tempati di kantin sambil tertawa-tawa.
Seara melihat Hotaru dan Nana dari jauh, "Haaaii!!! Disini!!" Seara melambai.
Hotaru dan Nana duduk di kursi dengan lesu.
"Waaah....seperti kehilangan gairah hidup saja...." Seara memperhatikan Hotaru dan Nana.
"Ohhh! Aku tahu! Pasti tidak bisa mengerjakan ulangan dengan baik!!" tanggap Miyu.
"Aku ini bodoh sekaliiiii!! Padahal waktu SMP selalu nomor satu, setelah masuk SMA ini bukannya tampah pintar, malah jadi tambah bodoh....mungkin aku yang terbodoh di sekolah ini!!!" keluh Nana.
"Wajar saja! SMA ini kan SMA favorit! Soal-soal yang diberikan pasti sulit!!" kata Seara.
"Iya, jangan mengeluh begitu....tiap orang kan punya kelebihan masing-masing!" hibur Miyu.
"Iyah! Benar!" Seara mangangguk, "Nana cukup beruntung memiliki kemampuan bahasa Inggris yang tinggi!!"
"Apanya yang tinggi! Akhir-akhir ini nilai bahasa Inggris-ku makin lama makin menurun....."
"Ahhhh, itu kan karena gurunya yang agak miring....." Seara berkomentar.
"Benar, benar...gagal sekali jangan putus asa, harus terus mencoba!! Contoh lain, lihat Seara! Kita semua sudah mengakui kemampuan menggambarnya kan? Lalu, dia mengikuti lomba menggambar sebanyak 23 kali, walaupun tidak pernah menang!!" kata Miyu.
"BENAR!!!" Seara meninjukan kepalan tangannya ke udara.
Hotaru yg dari tadi diam saja, tiba-tiba berkata, "Tapi...kalau dipikir-pikir, bukankah itu yang namanya 'menyedihkan'...?"
"Iya juga, ya..." Seara membenarkan dengan nada sedih, "...kalau dipikir-pikir, jangan-jangan ternyata aku tidak punya bakat........"
"Ehhhhh, kenapa jadi sedih semua begini??!?!?! Ayo! Hadapi hari ini dengan ceria!!!"
Ketiga temannya tidak ada yang menanggapi.
Tiba2 Hotaru berceletuk, “Ayahku…akan menikah lagi……”
Ketiga temannya menganga, “Heeeeeee????”
“Kok…begitu…?”
“Aku tidak tahu, ayahku memutuskan untuk menikah, katanya sudah saatnya bagiku untuk menerima ibu baru,”
“Lalu…kau tidak apa-apa?”
“Ya, aku marah! Tapi mau diapakan lagi……”
“Bersabarlah Hotaru…” Nana mengusap-usap punggung Hotaru.
Tiba-tiba ada yang menepuk punggung Nana dari belakang, "Nana!! Nanti kita pulang bersama lagi, ya!"
Nana menoleh, "Ahhh....Shige...."
"Eh?! Wajahmu....kenapa murung seperti itu??" tanya Shige.
"Ituu....sedikit ada masalah dengan ulangan hari ini...."
"Ah! Yang seperti itu jangan dipikirkan, masih ada kesempatan yang lain!" Shige memberi semangat, "sampai nanti, ya!"
Tiba-tiba kakinya tersandung kursi dan terjatuh. Ketika Nana dan teman-temannya akan menolong, "Ahhhh....tidak apa-apa!! Iya, betul...hanya terkilir sedikit..."
Teman-teman Nana menahan tawa melihat ekspresi kakak kelas satu ini yang sangat lucu.
"Makanya hati-hati, jangan terburu-buru seperti itu, benar tidak apa-apa??" Nana mencoba menolongnya untuk berdiri.
"Iya, iya...eheh, aku akan ke ruang kesehatan sendiri!!"
"Benar, tidak perlu diantar...?" tanya Nana.
"Iya! Tenang saja!" Shige berlalu dengan kaki yang agak sedikit pincang.
"Waahhh! Nana sepertinya sangat perhatian, ya, dengan Kak Shige..." komentar Seara.
"Iya! Jadi sebenarnya, seberapa dekat hubunganmu dengan Kak Shige??" tanya Miyu dengan pandangan curiga.
"Eh, apa-apaan kalian ini, hubungan kami hanya seperti kakak-adik!! Dan jangan berpikir yang macam-macam!! Shige itu kan sudah punya pacar..." sangkal Nana.
"Benar, sebaiknya jangan ganggu Nana dengan hal-hal seperti itu...." Hotaru tampak membela Nana, "....di hati Nana kan hanya ada Kak Hiroki!!"...ternyata tidak.
"APAAAAA?!?! Hiroki?? Kau ini sudah gila!! Laki-laki brengsek seperti dia tidak mungkin punya tempat dihatiku sedikit pun!!!" Nana langsung berekspresi marah.
Teman-temanya hanya tertawa.
"Habiiiss, tiap hari yang dibicarakan Kak Hiroki terus..."
"Tetap saja, yang dibicarakan itu kan betapa bencinya aku dengan sikapnya!"
"Tapi, biasanya...perasaaan benci itu bisa berubah 180 derajat menjadi cinta!!!" kata Seara.
"Ahhh, sudahlah....aku kembali saja ke kelas!!" Nana meninggalkan kantin.
"Wahhhhh, padahal dia belum membeli makan apapun....sampai begitu marahnya...." kata Miyu.
"Itu tandanya, Nana memang suka dengan Kak Hiroki!!" komentar Seara.
"Sudahlah, tidak usah berbicara yang aneh-aneh lagi tentang cinta!!!" Hotaru memotong pembicaraan.
"Ah! Benar! Aku hampir lupa, disini ada nona yang tidak percaya pada cinta," Miyu merangkul bahu Hotaru.
"Ah, iya! Sampai saat ini aku tidak mengerti kenapa Hotaru tidak percaya akan cinta! Padahal kan cinta dan hal-hal yang romantis itu kan, hal yang paling indah yang bisa terjadi pada kita!!!" kata Seara.
"Aku tidak percaya cinta! Itu saja....tidak ada alasan....sekarang, sebaiknya kita beli makanan saja, perutku sudah lapar!!" Hotaru memegang perutnya.
Miyu melihat ke arah kios-kios makanan, "Sepertinya ramai....perlu kita jalankan rencana kita yang biasa?"
"Baiklah....aku siap!!" Seara berdiri.
"Baik! Hotaru, tolong, ya!" Miyu juga berdiri.
"Oke!" Hotaru mengacungkan jempolnya.
Miyu menarik napas dalam-dalam, kemudian, "DASAR OTAK UDANG TIDAK TAHU DIRI!!! KAU PIKIR KAU INI SIAPA?!?!?!" teriak Miyu tiba-tiba.
"APA?!?!? KURANG AJAR! SIAPA YANG OTAK UDANG??! APA KAU TIDAK PERNAH BERKACA?!?!? JANGAN BICARA SEMBARANGAN!!" jawab Seara.
Tiba-tiba Miyu menjambak rambut Seara, kemudian terjadilah jambak-jambakan, cakar-cakaran, tampar-tamparan, benar-benar perkelahian khas perempuan. Seketika itu juga, orang yang tadi memenuhi kios-kios makanan berpindah ke arena perkelahian tersebut dan menonton.
Sehingga dengan leluasa, akhirnya Hotaru bisa membeli makanan-makanan di kios-kios itu. Trik ini biasa mereka lakukan paling tidak sebulan sekali, kalau kantin memang sedang sangat ramai ^_^

***

Nana berjalan cepat dengan ekspresi kesal ke arah kelasnya. Tiba-tiba saat berbelok ke kanan, Nana menabrak sesorang dan buku-buku yang dibawa orang itu jatuh berserakan.
"Ah! Maaf, maaf, ya!!" kata Nana sambil menunduk-nunduk dan membantunya membereskan buku-buku.
"Ah...ternyata Nana...."
Nana menoleh, "...eh....Kak Hiroki..."
"Benar saja!" Hiroki berdiri setelah memungut buku-bukunya, sambil tersenyum nakal, "...kau sengaja menabrakku, ya?!"
"Enak saja!! Siapa yang sengaja!!!! Menuduh seenaknya!!" Nana kesal.
Hiroki berbalik, jalan sebentar sambil tertawa kecil, kemudian berbalik lagi ke arah Nana, "Eh...lain kali, kalau ingin menyapaku, sapa saja...tidak perlu sengaja menabrakku..." kemudian Hiroki berlalu.
"Apa-apaan kakak ini!!! Siapa yang sengajaaaaaa!!!" Nana berteriak, kemudian berbalik dan berjalan menuju kelas.
Sampai di kelas, Nana menggerutu tidak jelas tentang Hiroki.
Nana menjatuhkan badannya ke meja didepannya, "Aaaaahhh!!! Kenapa jadi memikirkan laki-laki brengsek itu!!!"
Nana teringat pertemuan pertamanya dengan Hiroki.....

(flashback)
Pandangan Nana menyeruak ke segala penjuru rak CD-CD itu, mencari album terbaru band favoritnya.
"Ah, itu dia!!" Nana langsung menggapai CD itu, tapi pada saat yang bersamaan, satu tangan juga meraih CD itu.
Pandangan mereka bertemu, ternyata seorang laki-laki, tadinya Nana sudah akan melepaskannya, tapi ketika sadar CD-nya tinggal satu itu, Nana tidak jadi melepaskan CD-nya, "E...eh, maaf...aku melihatnya duluan!" kata Nana.
"Masa?? Padahal aku sudah lihat ini sejak aku di pintu masuk tadi," cowok itu mencoba meyakinkan.
"Hh...maaf, L'Arc~en~Ciel  ini band favoritku, aku sudah menunggu-nunggu album terbarunya selama sebulan, dan selalu kehabisan..."
"Wah! Sayang sekali...tapi, aku melihatnya duluan," cowok itu tersenyum.
"Mana bisa begitu!! Kita kan tidak tahu siapa yg melihat CD ini duluan!" Nana agak kesal.
"Baik...baik...kalau begitu kita selesaikan ini dengan cara suit, bagaimana?" tanya cowok itu.
"Eh?? Suit?" Nana bingung, "...seperti anak kecil saja..." tapi akhirnya dilakukannya juga.
Pada saat yang bersamaan, tangan Nana mengenggam, dan tangan cowok itu membentuk gunting.
"YATTA!!! Aku menang!!" Nana tertawa kecil. Cowok itu terlihat sedih.
"Yah, baiklah...kau menang," cowok itu mendesah, "...padahal tadinya CD itu akan kuberikan pada adikku yg sedang sakit di rumah sbg hadiah penghibur...., dia sangat menyukai L'Arc~en~Ciel," cowok itu berlalu.
Hati Nana tersentuh, "Cho--cho---chotto matte kudasai!!!"  Nana menahan cowok itu. Mereka berpandangan agak lama.
Nana menghela napas, "Baik! Kau ambillah! Aku bisa cari di toko lain...." Nana menyerahkan CD itu.
"Tidak, tidak usah, kau sudah menunggu-nunggu CD itu lama...ambil saja! Benar!" kata cowok itu.
"Tidak! Aku mohon belikan CD ini untuk adikmu....benar, aku tidak apa-apa..." kata Nana.
"Benar, tidak apa-apa??" cowok itu tidak yakin.
"Ung!" Nana mengangguk.
"Baiklah!! Terima kasih!" cowok itu menerima CD-nya dan agak membungkuk berterima kasih.
"Kembali..." Nana juga agak membungkuk. Kemudian dia memandangi CD yang sudah diambil cowok itu dengan sedih. Ya, sudahlah, pikir Nana.
Tidak berapa lama kemudian, Nana memutuskan untuk membeli CD soundtrack film saja, dan ketika akan ke kasir, Nana melihat cowok itu sedang berjalan dengan seorang anak kecil yang sangat amat sehat dan memanggilnya, "Onii-chan!"
Tiba-tiba cowok itu berbalik dan bertemu pandang dengan Nana, kemudian dia tersenyum dengan senyum kemenangannya. Nana baru sadar apa yang baru saja terjadi. Cowok itu dan adiknya pergi meninggalkan toko CD itu. Nana berusaha mengejarnya walaupun harus melewati kerumunan orang-orang. Akhirnya ketika dia berhasil keluar dari toko itu, dia lihat cowok itu sudah naik ke mobil, dan dari mobil dengan riangnya melambaikan tangan ke Nana.
Ketika mobilnya melewati Nana, Nana berteriak, "DASAR PENIPUUUUUUUUUU!!!!!!". Tanpa sadar, Nana sudah membawa CD Soundtrack itu keluar tanpa membayar lebih dulu yang membuat alarm-nya berbunyi. Nana tersentak, "O, iya..." melihat CD yang sedang dipegangnya, tiba-tiba ada yang mencolek pundaknya. "Heh!! Mau maling, ya..."
Nana menoleh ke belakang pelan-pelan dan tersenyum sopan pada penjaga toko itu. Penjaga toko itu juga tersenyum sekejap, lalu tiba-tiba menarik lengan Nana, "Ikut saya!!"
"Eh, eh, tunggu!! Ini semua kesalahpahaman!! Aku tidak bersalaaah!!!!" Nana berteriak. Semua gara-gara diaaaa!!! pikir Nana.

Keesokan harinya, Seara, Miyu dan Hotaru tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Wahahaha!! Lalu bagaimana?!?" tanya Hotaru sambil tertawa.
Nana terlihat agak kesal, "Ya, aku dipaksa mengembalikan CD-nya dan diancam akan dibawa ke kantor polisi, kalau sekali lagi itu terjadi!" Nana agak memonyongkan mulutnya.
"Ya, ampuuunnn! Nanaaa!!" Seara dan Miyu juga masih tertawa.
Agak menggumam, Nana berkata,"Sahabat macam apa kalian ini...temannya sedang kesal, malah ditertawakan!!"
"Eh, maaf, maaf...maaf!" Seara minta maaf mewakili dua sahabatnya yang lain.
Ketika tawa mereka mereda, "Lalu cowok itu kemana?" tanya Miyu.
"Mana aku tahu!! Tapi, aku bersumpah kalau aku bertemu lagi dengannya, aku akan menampar wajahnya!!" Nana berjanji.
"Apa benar?? Ingat, lho, Nana yang janji sendiri..." kata Hotaru mengingatkan.
Tiba-tiba bel masuk berdering. Keempat sahabat itu berdiri dan berjalan menuju kelasnya masing-masing. Seara dan Miyu memisahkan diri ketika sudah sampai di kelas mereka.
Kemudian, ketika Hotaru dan Nana sedang berjalan, Nana melihat Shige sedang berjalan ke arahnya dan melambaikan tangannya ke arah Nana. Seorang cowok berjalan disebelahnya, Nana merasa familiar dengan wajah orang itu. Ketika mereka makin mendekat, cowok itu juga seakan terkejut melihat Nana.
Saling berpandangan dan agak saling menunjuk, kemudian cowok itu memulai, "Eh...ternyata kamu!" cowok itu agak tersenyum.
"Ohh, jadi kalian sudah saling kenal, ya? Kok, aku tidak ta--..." belum sempat Shige menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tanpa ba-bi-bu lagi...PLAK!!! Nana menampar cowok itu.
"Caramu mendapatkan CD-nya kemarin benar-benar rendah, menggunakan nama adiknya sendiri untuk menipu orang!!" suara Nana agak bergetar, dan intonasinya naik-turun menandakan dia sedang benar-benar marah.
Sedangkan laki-laki itu hanya terpana, sepertinya dia cukup shock mendapat tamparan seperti itu. Seketika, siswa-siswa yang tadinya berjalan ke kelas masing-masing menyempatkan untuk berhenti dulu, melihat seseorang ditampar.
Dengan marah Nana berjalan kembali dan Hotaru mengikutinya.
"Apa-apaan ini, Hiroki??" Shige menanyakan teman sekelasnya itu.
Sambil memegang pipi sebelah yang tadi ditampar Nana, tiba-tiba dia tersenyum, "Ahh...tidak...dia hanya suka padaku..." kemudian Hiroki berjalan meninggalkan Shige yang masih bingung, "Eh?! Suka?"

Seminggu kemudian, ketika sedang akan mengambil buku-buku pelajaran di lokernya, Nana menemukan benda-benda asing. Nana mengambil benda-benda itu, diantaranya CD terbarunya L’Arc~en~Ciel plus VCD konsernya dan juga benda-benda kecil yang ada hubungannya dengan band favorit Nana itu. Kemudian, Nana menemukan secarik kertas terselip. Isinya :

Maaf, ya, yang waktu itu! Tidak kusangka kau benar-benar marah…sebagai gantinya ini!! CD yang kaucari-cari itu, dan juga tambahan VCD dan lain-lainnya. Mudah-mudahan, dengan ini kau memaafkan aku. O, iya…aku tau nomer lokermu dari Shige, maaf kalau kau menganggapku tidak sopan.
Ngomong-ngomong, kita belum saling berkenalan, kan?? Namaku Minekura Hiroki! Sekelas dengan Shige, dan aku sudah tahu namamu dari Shige. Yah, begitu saja! Sampai bertemu lagi  kapan-kapan!

                                                                                      Minekura Hiroki

Walaupun, Nana masih kesal dengan Hiroki, tapi diam-diam dia tersentuh dengan usaha Hiroki menemukan CD-CD itu untuknya. Dia tahu betapa susahnya mencari CD-CD itu. Tiba-tiba dia tersenyum.

Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan teman-temanku tadi ada benarnya juga....jadi sebenarnya aku ini suka atau tidak, ya...dengan dia? pikir Nana.
Tapi...kalau mengingat sikapnya yang sangat GR-an itu....
Tiba-tiba Nana memukul meja, huh!! Aku benci! Dia pikir siapa dia?! Merasa dirinya paling keren dan cakep!!
(Komentar : padahal memang iya....)

***

"Shige...benar tidak apa-apa?" Nana khawatir melihat keadaan Shige yang berjalan hanya dengan sebelah kaki.
"Benar! Jangan khawatir...eheh, hanya sedikit terkilir...itu saja!! Lihat! Bisa kugunakan!" Shige memaksa kaki sebelahnya yang terkilir.
Tiba-tiba, dia terjerembab ke tanah. Nana terkejut, belum sempat menolongnya, masih dengan posisi tengkurap Shige mengangkat tangannya(jari-jarinya membentuk O) dan berkata, "Aku tidak apa-apa!!"
Kemudian, Nana menolongnya untuk berdiri. Sebenarnya, Shige itu tampan, tapi tingkah lakunya sangat kekanak-kanakan, dan juga sering bertingkah konyol. Tapi, mungkin...justru itu yang membuat banyak gadis-gadis yang suka padanya. Walaupun, mereka harus kecewa...karena ternyata Shige memiliki pacar yang sudah berjalan selama satu setengah tahun, dan Nana memang pernah menjadi salah satu korbannya.
Nana teringat peristiwa beberapa bulan yang lalu, pertama kalinya dia bertemu Shige, jauh sebelum Nana kenal dengan Hiroki....

(flashback)
Bel tanda masuk kelas tadi membuat nafas Nana memburu karena harus berlari. Tiba-tiba ada kantong tissue yang jatuh di hadapan Nana yang kemudian diambil olehnya. Nana memperhatikan sekeliling, melihat kalau2 ada pemilik yang mencarinya. Tiba-tiba dari belakang, "Ah! Maaf! Itu milikku..."
Nana menoleh ke belakang. Laki-laki berparas cukup tampan sudah berdiri di depannya. Sejenak Nana diam, tidak berkata apa2 dan hanya memandanginya. Kemudian, laki-laki itu berkata lagi, "Eh, maaf...itu..." sambil menunjuk kantong tissue yg masih dipegang Nana.
Seakan kembali sadar, "Ah, oh!! Ini, ya?? Maaf...maaf...silahkan..."
Diambilnya kantong itu dari tangan Nana, "Iya...eheh, terima kasih, ya!!" laki-laki itu langsung berlalu terburu-buru menuju kelasnya.
Sedangkan, Nana memandanginya terus sambil tersenyum dan berkata dengan pelan, "...kembali...."

Setelah Nana memutuskan untuk bergabung dengan klub koran sekolah, dia ditunjuk menjadi pengganti Shige, yaitu sebagai fotografer-nya. Karena itu Nana dan Shige sempat sering bekerja sama selama 3 minggu untuk mengambil gambar-gambar dan itu juga yang membuat Nana dan Shige makin mengenal satu sama lain. Dan juga, membuat Nana makin suka dengan Shige, benar-benar suka. Tapi, pada saat ulangtahun Nana yang ke-16……

"Waaahh!! Restorannya ramai, yaaa!!" Seara memandang sekitar.
"Wah, kalau begini caranya, kita tidak akan dapat tempat duduk!" Miyu menimpali.
"Ahhh!! Itu, itu...cepat ke situ, masih kosong!!" Hotaru menunjuk suatu tempat. Mereka berempat lari dan ternyata ada sekelompok orang juga yang mengincar tempat itu. Seakan berlomba2, dua kelompok itu saling mendului. Akhirnya, Nana berhasil menduduki salah satu kursinya, dengan tersenyum, "Maaf, cari tempat yang lain, ya!" sambil menundukkan kepalanya.
Sekelompok orang itu terlihat kesal, kemudian pergi dari tempat itu mencari meja lain yang masih kosong.
"Haha!! Untung Nana cukup cepat, ya!" Miyu duduk di samping Nana.
"Eh, sebaiknya kita mulai memesan saja!" usul Hotaru.
"Benar!! Perutku sudah lapar!" kata Seara.

Setelah selesai memesan, Hotaru dan Miyu ke toilet. Sekembalinya dari toilet, tiba-tiba, ada sesuatu yang menarik perhatian Hotaru.
"Eh...bukankah itu Shige??!?"
"Mana?"
"Itu!! Yang itu..."
Seara mencoba mengikuti arah pandangan Hotaru, "Mana?!?"
"Ituuu! Yang dekat kasir!"
Seketika, Miyu melihat Shige bersama seorang perempuan yang tidak dikenalnya, dan mereka terlihat sangat mesra. Mata Miyu membelalak, kemudian Miyu dan Hotaru saling berpandangan.
“Gawat!! Kalau seperti ini, kita tidak boleh membiarkan Nana ke toilet!!”
“Tapi kenapa? Tidak apa-apa kan kalau dia tahu yang sebenarnya?”
“Tapi ini kan hari ulang tahunnya!!!”
“Ah, iya…benar juga, lalu kita harus bagaimana??” tanya Miyu.
“Kita kembali saja dulu!”

Selama mereka makan, semuanya berjalan lancar. Nana pun terlihat sangat gembira. Tiba-tiba, “Eh, aku ke toilet sebentar…” Nana berdiri. Hotaru dan Miyu saling berpandangan dan agak melotot. Seketika itu juga, karena panik, Miyu mencegah Nana sambil berdiri, tapi menyebabkan piring dan gelasnya terjatuh dan isinya tumpah semua, tentu saja hal ini menarik perhatian semua orang, termasuk Shige yang sedang akan keluar dari restoran itu.
“Eh, Nana?” Shige terkejut melihat Nana.
“Kak Shige……” Nana terlihat senang, tapi tidak lagi ketika melihat seorang perempuan yang terus menggandeng lengan Shige.
“Ah! Sedang apa?!” tanya Shige.
“Eh, begini!! Hari ini Nana sedang ber……” tadinya Hotaru akan menolong Nana dengan memberitahukan Shige kalau Nana sedang ulang tahun, tapi kalimatnya dipotong oleh Nana sendiri, “………berbaik hati menraktir teman-temanku, karena…karena hari ini ulanganku dapat nilai bagus………” Nana tersenyum sambil membuat alasan palsu. Kemudian, pandangan matanya ke arah perempuan itu, seakan meminta Shige untuk dikenalkan.
Begitu sadar, “Ah!! Iya! Kenalkan………ini Sakura, dia……ehm……dia………”
Nana tersenyum, “Pacar Kak Shige, ya??”
Muka Shige memerah dan dia tidak menjawab, yang artinya…iya.
“Eh, senang berkenalan denganmu! Namaku Aizawa Sakura! Sekolahku memang agak jauh dari sekolah kalian, jadinya mungkin belum pernah melihat wajahku………” Sakura tersenyum ramah.
“Iya!! Mungkin begitu, aku Hayashi Nana, adik kelas Kak Shige, dan satu klub koran sekolah,” Nana menjawab dengan ramah pula.
“Ah, iya…sebaiknya……kita segera pulang,” Shige berkata pada Sakura. Sakura mengangguk.
“Eheh, aku duluan, ya!” Shige agak membungkuk. Begitu pula dengan Sakura dan Nana.
Setelah mereka pergi, Nana terduduk.
“Nana………” Seara memandang Nana dengan sedih, begitu pula dengan Miyu dan Hotaru.
Setelah beberapa lama, “Eh!! Aku tidak apa-apa, benar, kok!!! Sungguh!” Nana tertawa kecil, “Mari kita lanjutkan makannya,”
Tiba-tiba, Hotaru memegang pundak Nana, “………jangan menyembunyikan perasaan seperti itu……”
Nana menjatuhkan sendok dan garpunya, setetes air mata jatuh ke mejanya, makin lama makin banyak, “…………padahal hari ini ulangtahunku!!” Nana akhirnya menangis didepan teman-temannya. Miyu yang duduk paling dekat dengannya memeluknya.
 
“Aduh, aduh, aduh!!! Sudah tahu sakit, kenapa dipukul seperti itu!!!” Shige meringis kesakitan.
“Siapa yang memukul, aku kan hanya menyentuhnya dengan pelan….makanya jangan sok jago dengan menahan sakit seperti itu!!” Nana memegang lengan Shige sementara Shige berjuang untuk berjalan dengan normal.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai didepan rumah Shige. Nana membunyikan bel rumahnya. Seorang wanita tua keluar dan sangat terkejut melihat keadaan Shige.
“Ya, ampuuuunn! Shige, kamu kenapa?”
“Ah, tidak apa-apa, nek, hanya terkilir sedikit!” Shige berusaha jalan masuk ke rumahnya dengan sedikit bantuan neneknya. Kemudian, neneknya melihat Nana.
“Ahh!! Nana, terima kasih, ya….sudah mengantar Shige sampai kesini!! Ayo, silahkan masuk dulu!” ajak nenek Shige.
“Tidak usah, nek!! Tidak apa, aku langsung kembali ke rumahku saja, sudah sore……” Nana membungkuk dengan hormat.
“Yah, kalau begitu hati-hati, ya! Dan, sampaikan salamku untuk ibumu!!”
“Iya, pasti!” Nana membungkuk sekali lagi dan ketika berbalik, Shige berteriak, “Sampai ketemu besok, ya!!”
Nana melambaikan tangannya dari jauh.

Rumah di seberang rumah Nana itu adalah rumah nenek Shige. Dengan alasan akan lebih berkonsentrasi belajar(karena sudah kelas 3) dan juga untuk menemani neneknya yang kesepian, Shige pindah kesitu. Dan, ketika sadar, bahwa rumah mereka berseberangan, mereka berjanji untuk selalu berangkat dan pulang bersama. Hasilnya, Nana dan Shige menjadi tambah dekat, dan lambat laun Nana merasa dia telah melupakan perasaannya pada Shige dan berkembang menjadi rasa sayang kepada seorang kakak.
 

Chapter 2

Nana, Miyu, Hotaru dan Seara sedang makan sambil ngobrol, ketika Takahashi dan kawan-kawannya mendekati mereka. “Aaaa….Takahashi, Mamoru, Kusao dan Mitsuki! Seperti biasa, selalu berempat!” kata Miyu.
“Memangnya kenapa? Kalian juga selalu terlihat berempat kan?” balas Mitsuki.
“Ehhh….ada apa?” tanya Nana.
“Nggg, begini….sebenarnya……ehmm, aku ada sisa empat tiket konser GLAY, bagaimana kalau kalian ikut menonton?” Takahashi menyodorkan tiket-tiket itu.
“HAAAAA??!? Empat tiket, kamu bilang sisa???” Miyu langsung meraih tiket-tiket itu.
“Haha, sebenarnya kan ada maksud tertentu……” kata Mamoru penuh arti.
Mereka saling berpandangan, tapi kemudian Nana, Hotaru dan Miyu langsung mengerti maksud Mamoru, “Ooooohhhhh……iya….benar juga………” sambil memandang Seara.
“Eh?? Apa?” tanya Seara agak bingung.
Muka Takahashi memerah. Kusao, Mitsuki dan Mamoru tertawa-tawa.
“Yah……sudahlah, sampai berapa tahun pun, kalau hanya diberi sinyal, Seara tidak akan pernah bisa menangkap maksudnya!” kata Hotaru.
“Bagaimana?? Kalian mau tidak?!” tanya Kusao.
“TENTUUU!!” jawab mereka hampir bebarengan.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita berangkat bersama??” ajak Mitsuki.
“Jangaaaannn…….berangkat sendiri-sendiri saja, kita ketemu disana! Tapiiiii………khusus Seara dan Takahashi, berangkat bersama saja!” usul Miyu, sambil berniat memberi petunjuk pada Seara.
Teman-teman yang lain langsung meng-iya-kan dengan nada menggoda teman mereka. Muka Takahashi kembali memerah.
“E? Kenapa aku harus berangkat dengan Takahashi?” tanya Seara dengan polosnya.
Tujuh orang itu memandang Seara, menunggu Seara untuk mengerti situasinya, “Ohhhh!! Iya, benar juga, ya! Rumah kami hanya beda beberapa blok!!”
(komik : gubrak!!)
“Ahhh! Sudahlah, di-iya-kan saja…..kalau begitu, nanti Takahashi jangan lupa menjemput Seara, ya!!" kata Nana.
“Yak!! Betul sekali!!” Kusao setuju, sambil menepuk-nepuk punggung Takahashi.
Tiba-tiba, Pak Nakamura berjalan melalui mereka dengan cerianya. Obrolan mereka terpaksa berhenti, dan ketika Pak Nakamura mulai mendekat, secara berbarengan mereka membungkuk sambil berkata, “Ohayoo gozaimasu, sensei!!”
“Ah!! Ohayo, ohayo!!” Pak Nakamura tertawa kecil kemudian berjalan lagi.
“Wahhh……sepertinya, bahagia sekali……” Miyu memandang Pak Nakamura dengan heran.
“Bagaimana kau ini?? Apa belum tahu?! Pak Nakamura itu telah melepas masa lajangnya, dan menikah dengan wanita yang lebih muda sepuluh tahun darinya!!” Mamoru menjelaskan.
“EEEEEEE???????” ungkapan-ungkapan hontou ni, uso, masaka,  dan berbagai ungkapan tidak percaya lainnya keluar dari mulut Nana, Hotaru, Miyu dan Seara.
“Ehhh, ceritakan, ceritakan!! Sejak kapan, Pak Nakamura menikah lagi???” Nana meminta penjelasan lebih lanjut.
“Begini……” Takahashi mencoba menceritakan gosip-gosip yang dia tahu.
Sebenarnya, kedua kelompok berlawanan jenis ini tidak begitu dekat hubungannya, tetapi sejak Takahashi mempunyai perasaan khusus terhadap Seara, mau tidak mau kedua kelompok ini jadi sering terlihat bersama, dikarenakan Takahashi yang selalu ingin mendekati Seara, dan ketiga temannya yang sangat supportif. Sayangnya, Seara yang agak lemot, tidak pernah menyadari hal ini =P

***

“Lalu…..Shige akan melanjutkan kemana?” tanya ibu Nana pada Shige, sebelum memasukkan yakitori  dengan sumpit ke dalam mulutnya.
“Aaaa…tentang itu, masih belum bisa memutuskan, Bi…” Shige tersenyum sopan.
“Kamu ini bagaimana! Sebentar lagi kan akan segera lulus……jangan sampai seperti oniichan!”  kata ibu Nana sambil melirik Tetsuya, kakak tertua Nana.
“Ha! Okasan …terima kasih, telah mengingatkanku tentang hal itu….” Tetsuya tersenyum tetapi kemudian berekspresi tersinggung.
“Loh…ibu tidak salah, kan? Salahmu sendiri, sudah bagus-bagus berkuliah di jurusan Ilmu Komputer, tapi malah berhenti…..”
“Iya! Tapi kan aku memang tidak menikmati belajar hal-hal seperti itu……aku ini hidup hanya untuk musik!!” Tetsuya membantah.
“Hhhhhh……menjadi musikus itu tidak mempunyai masa depan yang pasti, buktinya sekarang pun, pekerjaanmu tidak jelas……”
“Tidak jelas apanya! Sekarang, kan aku bekerja di kafe….dan itu pekerjaan yang halal, kan??”
“Tapi……”
“Eeeehhhh……………ibu, kakak!! Sudah, sudah….apa tidak sadar disini ada tamu!” Nana menghentikan mereka.
Mereka terdiam sebentar. Kemudian, Nana melanjutkan, “Lagipula….bukannya kakak tidak berpotensi kan?? Kalau memang pekerjaan ini yang disukainya, biarkan saja! Daripada bekerja di bidang yang tidak cocok, itu kan justru akan menyiksa dirinya……”
“Hhhhhh, terserahlah! Maaf, ya, Shige…….eheh, lalu, apa Shige sama sekali belum memutuskan jurusan yang akan dipilih??” tanya ibu Nana.
“Nggg, sebenarnya pilihanku antara jurusan teknik elektro atau mungkin malah kedokteran….” jawab Shige.
“Ohhh!! Begitu….eh, bagaimana kalau menikahi Nana dulu….!!”
“Ohokk, uhukkk, ohkk…. OKASAN!!!! ….ohkk…uhuk!” seketika itu juga Nana tersedak. Shige juga sempat tersedak air minum, tapi hanya batuk kecil, lalu tersenyum garing.
Tetsuya mengelus-ngelus punggung adiknya, “Ini….minum!”
“Aduuuh…ibu ini….Shige itu kan sudah punya pacar!” seakan Tetsuya berbicara mewakili Shige dan Nana.
“Lalu kenapa? Pacar itu kan tidak selalu nantinya dijadikan istri! Lagipula, hubungan Shige dan Nana kan sudah dekat….iya, kan?” ibu Nana tersenyum-senyum.
“Ibu ini kenapa, sih?!?!? Apa tidak bisa tidak mencampuri urusan orang lain, sekali saja!! Selalu mengatur dan memanipulasi orang lain seenaknya!” Tetsuya berdiri seraya berkata sambil agak membentak, “Gochisosama!”  kemudian meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya. Ibu Nana, Shige dan Nana hanya terdiam.

“Eh, Shige! Terima kasih, ya, telah membantuku mencuci piring….besok malam aku yang akan ke rumahmu!” kata Nana ketika mengantar Shige keluar.
“Beres…..” Shige mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.
“Eh, ngomong-ngomong….maaf, ya, yang tadi….ibu memang sering sembarangan berbicara….”
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan! Aku mengerti, kok!”
Tiba-tiba, sebuah taksi berhenti didepan rumah Nana. Ternyata, ayah Nana baru pulang praktek.
“Oh! Ternyata Shige!” kata ayah Nana.
Shige membungkuk dengan hormat, “Ah! Konbanwa, ojisan!”
“Ayah!! Maaf, ya….kami makan duluan, habis ayah terlambat sekali……”
“Iya!! Tidak apa-apa, lagipula ayah sudah makan bersama dokter-dokter lain tadi di rumah makan dekat klinik!”
“Ohhh……”
“O, ya! Shige, besok jangan terlambat, ya….paman tunggu jam satu!”
“Ah! Iya!” Shige membungkuk sekali lagi, sebelum ayah Nana masuk ke dalam rumah.
“E? Sejak kapan kau membuat janji dengan ayah?” Nana heran.
“A! Itu…eheh, iya, mumpung besok hari libur, aku membuat janji makan siang dengan ayahmu, mencari buku-buku kedokteran yang bagus, lalu sekalian minta dijelaskan tentang sistem-sistem reproduksi, kan ayahmu dokter kandungan…”
“Ooo…begitu ….” Nana mengangguk-angguk, “Shige sudah kelas 3, sih, ya, jadinya hari libur pun dimanfaatkan untuk belajar!”
“Memangnya, besok kau akan melakukan apa?” tanya Shige.
“Ohhh, itu!!” kata Nana gembira, “Menonton konser GLAY !!!”

***

“Hotaruuuuuuu!!!!!!!!! Disiniiiii!!!!!”
Hotaru menoleh, dilihatnya Miyu sedang melambai-lambai, dan disebelahnya sudah ada Nana, Kusao, Mamoru dan Mitsuki.
Hotaru melambai balik dan setengah berlari menuju mereka. Ketika sudah dekat, dia bertanya, “Eh, Takahashi dan Seara mana?”
“Waaahh….jangan-jangan, mereka keenakkan berdua….” kata Kusao.
“Tidak mungkin! Lagipula kan Seara itu lugu!” bantah Nana.
“Ha! Panjang umur! Itu mereka!” Mamoru menunjuk ke arah Takahashi dan Seara.
Ketika sudah mendekat, teman-temannya berbatuk-batuk kecil, untuk menggoda mereka berdua. Seperti biasa, dengan lugunya Seara berkata, “Eh? Sekarang batuk sedang musim, ya?!”
“Ahhh!! Sudah, sudah, ayo, masuk!!” Takahashi mendorong-dorong teman-temannya.
Tanpa sepengetahuan Takahashi dan Seara, Mitsuki berbisik-bisik pada yang lainnya, “Eh, nanti kalau sudah sampai disana, kita agak memisah dari mereka berdua, ya!”
Yang lain hanya mengangguk-angguk dan tertawa kecil.

***

“Ah, yang ini, sepertinya bagus!” Pak Hayashi mengambil satu buku tebal dari rak itu.
“O, ya?” Shige ikut melihat-lihat isinya, ketika Pak Hayashi membolak-balik halaman per halaman. Kemudian, Shige melihat-lihat lagi buku-buku yang lain.
Tiba-tiba, Pak Hayashi membolak-balik satu halaman berulang-ulang.
“Shige! Ah, sini, sini….lihat yang ini…” Pak Hayashi menunjuk suatu gambar di halaman itu. Shige menurut dan melihat gambar itu. Tadinya agak terkejut, tapi kemudian Shige tersenyum-senyum malu.
“He? Bagaimana? Jangan katakan kau tidak suka yang seperti ini….”
“Eheh, paman ini bisa saja….eheh, kalau yang seperti itu, bagaimana, ya?” Shige agak gugup sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Ahhh!! Anak muda seperti kamu ini mana mungkin tidak suka yang seperti ini! Ayo, akui saja!”
“Eheh, tapi kan kalau yang seperti itu, hanya untuk dipelajari saja….”
“A-las-an!! Ayooo….he?”
“Eheh, paman ini! Ehh…sebenarnya, ya….iya…” Shige menunduk-nunduk malu.
“Aaaa!! Kan?? Tahu tidak, kalau paman menyuruh Nana melihat gambar yang seperti ini untuk mengajari dia tentang reproduksi, pasti dia langsung menutup matanya, dan mengatakan kalau gambar ini menjijikkan! Tapi…ternyata, malamnya dia diam-diam mengambil buku itu dan melihat-lihat tanpa sepengetahuanku…ck..ckkk….Nana, Nana…..” Pak Hayashi menggeleng-geleng sendiri.
“Ah! Begitu, ya??” Shige tersenyum-senyum.
“Jadi benar kan, kau senang yang seperti ini??”
“Eheh, yaaa….untuk selingan saja, kadang-kadang, paman…” tiba-tiba kepalanya dipukul.
“Bodoh! Sudah cukup! Jangan berterus terang lebih banyak….”
“Loh?? Tadi paman menyuruh aku jujur….” Shige memegangi kepalanya yang baru saja dipukul.
“Iya! Tapi, jangan terlalu jujur seperti itu, aku ini kan orangtua… bagaimana kamu ini?? Hhhhh……”
“Ohhh……iya, kalau begitu, maaf….” Shige menunduk-nunduk agak heran.
“Jadi bagaimana?? Kau lebih suka yang banyak gambarnya atau….” tanya Pak Hayashi lagi.
“Aa…itu, sebaiknya yang banyak gambarnya saja, paman!”
“Waaahh, kau ini…..otakmu ternyata dipe----…”
“Eh!! Jangan salah sangka dulu, hari ini kan ingin minta dijelaskan oleh paman, kalau yang banyak tulisannya, akan lebih sulit dijelaskan. Naah, kalau yang banyak gambarnya kan akan lebih mudah bagi paman untuk menjelaskan secara lisan!”
“Haha, kau ini pintar bicara, ya!” Pak Hayashi mengangguk-angguk.
“Benar, paman……”
Tiba-tiba, ada yang mencolek dari belakang, “Shige….” seorang gadis tersenyum di belakangnya.
Shige menoleh, “Eh? Sakura??”

***

“APA?!? TIDAK KEDENGARAN!!!” Nana berteriak.
Hotaru mencoba mengalahkan suara bising yang keluar dari alat-alat musik GLAY dan suara teriakan fans-fans, tapi tidak berhasil. Akhirnya, Miyu dan Hotaru mencoba menggunakan bahasa tubuh dengan menunjuk-nunjuk pintu keluar, lalu menunjuk-nunjuk Takahashi dan Seara.
Setelah Nana mengerti maksudnya, dia mengangguk, tersenyum, lalu mengikuti Miyu dan Hotaru. Karena penuh dan berdesak-desakan, Nana tidak selalu bisa mengekor Miyu dan Hotaru. Tiba-tiba, Nana menyenggol seseorang dan barang yang sedang dipegang orang itu terjatuh sekaligus pecah.
“Ahhhhhh!! Gomen nasai!!!”  Nana berjongkok untuk mengambil barang itu.
Terlihat orang itu kesal, ketika dia mendongak, Nana terkejut, begitu pula orang itu.
“Kak Hiroki??”

***

“Sedang apa disini?” Shige bertanya.
“Baru saja aku akan menanyakan hal yang sama!” Sakura tersenyum, “Ah! Itu ayahmu, ya?”
Shige baru saja akan menjawab ketika Sakura sudah membungkuk, “Konnichiwa,  ojisan! Sudah lama aku ingin bertemu paman!”
“Eh? Siapa dia?” Pak Hayashi bertanya pada Shige.
“Aa, paman…” Sakura mendongak terkejut ketika mendengar Shige memanggilnya paman.
“Kenalkan, ini Sakura, teman satu tempat les-ku…”
“Sakura, ini Pak Hayashi….” Sakura menunggu lanjutannya, “….ehhh, ayah Nana,”
Sakura terdiam sebentar, tapi kemudian tersenyum, “Ohhh! Begitu, ya, eheh….maaf, aku tidak tahu……ehh, senang bertemu paman!” Sakura membungkuk lagi. Pak Hayashi balas agak membungkuk.
“Ehh…iya, kalau begitu, sudah dulu, ya!! Aku pergi….” Sakura pergi agak terburu-buru. Shige memandangnya dari jauh.

***

“Iya, iya!! Aku tahu….sudah aku bilang, aku minta maaf!!”
“Aku tidak mau tahu, kau harus menggantinya!” Hiroki kesal.
“Iyaa!! Ini kan juga kita sedang menuju toko elektronik terdekat!! Huuuhhh….sampai aku harus mengambil uang tabunganku melalui ATM….” Nana mengeluh.
“Yah, itu sudah menjadi tanggung jawabmu!”
“Enak saja, tanggung jawabku! Bagaimana dengan tanggung jawabmu?”
“Eh? Maksudnya?”
“Membawa tape perekam untuk merekam live show itu kan ilegal!! Aku bisa saja……” Nana berhenti, seperti mendapatkan ide cemerlang, Nana langsung mengutarakan, “Aku bisa saja melaporkanmu ke bagian ketertiban konser tadi!!” Nana langsung berbalik sambil tersenyum senang.
Hiroki terbelalak, “Eh, eh, eh!! Tunggu, tunggu!!” Hiroki menarik lengan Nana.
Nana berhenti, lalu bertolak pinggang, sambil tersenyum, dengan nada menantang,
“Bagaimana?? Kalau tidak ingin aku melaporkannya, kau traktir aku makan!!”
Hiroki memandang Nana dengan pandangan agak menyipit, “Kau tidak akan melakukannya….”
“Ohhh!! Jadi kau tidak percaya?!? Baiklah!!” Nana berbalik dan berjalan dengan terburu-buru. Hiroki kembali menariknya, “Chot---Chotto matte yo!!!”
Nana berhenti lagi, “Bagaimana?”
Hiroki berekpresi kesal, bimbang sebentar, lalu, “Hhhh…kenapa jadi berbalik kau yang memerasku seperti ini!!”
“Yatta!!!”  teriak Nana.

***

Nana sedang menyedot jus semangkanya, ketika Hiroki tiba-tiba berkata, “Hei!”
“Apa?”
“Kau sengaja, ya, menggunakan kesempatan ini untuk mendekatiku,” Hiroki tersenyum nakal.
“Ya, ampuuunnnn!!! Ya, sudah!” Nana langsung pindah ke meja sebelah yang kebetulan kosong.
Hiroki tertawa kecil, sementara Nana agak memonyongkan mulutnya, tanda dia sedang kesal.
“Hei, mulutmu jangan dibegitukan, tampangmu jadi jelek!” kata Hiroki masih sambil agak tertawa.
“Biar saja! Siapa yang peduli??”
“Aku peduli…”
Nana agak terkejut, lalu dia menoleh, dilihatnya Hiroki tersenyum. Nana jadi agak salah tingkah, tapi kemudian seperti tersadar, “Aaaa, kau ingin membuatku GR, ya!!!” Hiroki kembali tertawa.
“Huuhh!” Nana kembali memonyongkan mulutnya.
“Ahaha, hanya bercanda, bercanda, kok! Ayo, duduk lagi disini! Biar kita bisa ngobrol!” Nana menoleh lagi dan ragu-ragu.
“Ayoo!” ditariknya tangan Nana. Akhirnya, Nana kembali duduk disitu.
“Naahh, kalau begini kan seperti kencan betulan….” Hiroki tersenyum nakal.
“Aahhh!!!” Nana kembali berdiri.
“Ehhhh, eheh,” Hiroki mencoba membujuknya untuk kembali duduk disitu.

***

“Aduuh, yang lain tadi pada kemana, yaaa…..seenaknya saja meninggalkan kita berdua….” Seara mengayun-ayunkan tasnya.
“I…iya, yah?” Takahashi meng-iya-kan.
Mereka sedang berjalan menuju rumah mereka masing-masing yang tidak beda jauh. Sepanjang perjalanan, Takahashi berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengutarakan perasaannya pada Seara. Tapi, selalu tidak jadi.
“Eh, Seara….pernah jatuh cinta tidak?”
“Aku?! Mmh, bagaimana, yaaaa…….memangnya kalau Takahashi??”
“Ah, iya! Sepertinya…aku sedang jatuh cinta dengan seorang gadis….”
“Waaahhh!!! Seperti apa orangnya, ayo katakan, katakan!!”
“Mmmhhh, bagaimana, ya?? Yaaahh…orangnya sangat cantik, menurutku, bisa membuat hatiku bergetar, yah pokoknya seperti itu….”
“Eh, lalu, lalu….apa dia menyukaimu juga?!”
“Ahah! Itu dia yang aku khawatirkan…..aku tidak tahu…”
“Bagaimana kau ini……katakan, dong, perasaanmu padanya!! Mana dia bisa membalas perasaanmu, kalau dia tidak tahu yang sebenarnya!”
“Ah, be…benar juga, ya! Engg, kalau Seara ada yang disukai tidak?” Takahashi bertanya dengan harap-harap cemas.
“Aku?? Mmhhh…sebenarnya ada! Eheh, aku jadi malu……tapi, kalau aku kan wanita, yah? Apa boleh menyatakan lebih dulu?”
“Eh, eh….siapa orangnya….”
“Kau tidak kenal….dia tidak bersekolah di sekolah kita!”
Takahashi merasakan hatinya yang hancur berkeping-keping, mengetahui dirinya sudah tidak mempunyai harapan lagi.
“Eh, cukup tentang diriku…..lalu bagaimana dengan gadis yang kau sukai itu?? Dia belum punya pacar kan?? Ajak kencan saja!!”
“Ta…tapi…”
Tiba-tiba, Seara memotong, “Sebenarnya kau ini sudah berpengalaman belum??”
“Apa?”
“Itu….pergi kencan…”
“Ten-tentu saja!!! Aku kan kelas 2 SMA, masa’ belum pernah…ahah…walaupun tidak sering, tapi….” Takahashi berbohong.
“Baik, baik, aku mengerti….saat kau kencan, apa kau pegang tangannya?”
“Ehh, apa maksudnya? Kalau iya kenapa? Yahhh….kadang-kadang, sih….”
"Eh, kau pernah berciuman tidak?" Takahashi terkejut ditanya seperti itu.
"Ciuman?! Engghhh...."
"Bukan yang di pipi, lho!"
"Ohhh, itu, ya….mmmh…." Takahashi memalingkan pandangannya, tidak ingin melihat Seara secara langsung.
"Aku belum...."
Hampir bebarengan, Seara berkata, "Jadi belum, yaaa...."
"Eh, ayo latihan!"
"Eh?!"
"Latihan denganku!"
"Tunggu...maksudnya……"
Seara tiba-tiba memegang pundak Takahashi, dan agak memutar dia agar wajah mereka saling berhadapan, “Saat kau berdekatan dengan seorang gadis, secara alami gadis itu akan menutup matanya.”
Seara menutup matanya perlahan, kemudian tangannya memeluk leher Takahashi.
“Agak miringkan kepalamu, jadi hidungmu tidak mengganggu…..dan dengan lembut….”
Takahashi perlahan mendekati wajah Seara. Ketika bibir mereka berjarak beberapa inci saja, tiba-tiba Seara menjauh darinya, “Nah! Selanjutnya, semuanya akan berjalan secara alami!!” Seara tersenyum riang. Kemudian, dia berjalan meninggalkan Takahashi yang masih diam terpaku. Tapi, Seara berbalik lagi dan bertanya, “Sudah mengerti kan sekarang?”
Seakan kembali mendarat dan sadar, Takahashi agak terkejut, tapi kemudian mengangguk, “Ung…”
“Kalau begitu, sampai besok, ya! Terima kasih telah mengantarkan sampai disini, seterusnya aku bisa sendiri!! Daaahh!!” Seara berjalan dengan ceria menuju rumahnya yang tinggal beberapa meter lagi.
Takahashi yang masih agak bingung, terdiam, berpikir apa yang baru saja terjadi, tapi kemudian mulai berjalan menuju rumahnya.

***

“Kalau begitu, sampai disini saja, ya! Aku ada janji lain,”
“Ah, iya!! Paman, terima kasih banyak!!” Shige membungkuk dalam-dalam.
Ayah Nana masuk ke dalam taksi.
Setelah, taksinya agak jauh, Shige ke box telepon umum terdekat. Memasukkan koin kedalamnya dan mulai memencet nomor-nomornya. Setelah beberapa detik, “Moshimoshi!! Kediaman Aizawa?”, “Bisa bicara dengan Sakura?”
“Sakura?”
“Ahhh….Shige, ya, ada apa?”
“Aku ingin bicara sebentar….”
“Oh, iya….acara makan siang dengan calon mertuanya sudah selesai?”
“Sakura!! Kenapa berbicara seperti itu??”
“Aneh, ya?? Padahal menurutku wajar, aku berbicara seperti itu…”
“Aku hanya minta bantuan paman dengan---,”
“Sudahlah, Shige, aku tidak meminta penjelasanmu!”
“Sakura………kau marah?”
“Eheh, bagaimana, ya?? Pacarnya ini sedang dekat dengan seorang gadis lain, walaupun katanya hanya dianggap sebagai seorang adik….tapi, pulang-pergi sekolah selalu bersama,”
“Itu kan…”
“Bahkan sudah saling mengenal keluarga masing-masing…malam ini makan malam di rumah Nana….”
“Saku---…”
“Malam berikutnya, di rumah Shige!! Malam berikutnya lagi, di rumah Nana!!! Nenekmu pasti sudah menganggapnya seperti cucunya sendiri kan?” tanpa sepengetahuan Shige, air mata Sakura mulai menetes.
“Sa…”
“Bahkan!!! Bahkan, ayahnya juga sudah sangat dekat denganmu sampai membuat janji makan siang bersama!! Mungkin kalian sudah diam-diam ditunangkan, akupun tidak tahu!!”
“Sakura!”
“LALU POSISIKU INI DIMANA?!?!? Bahkan aku tidak kau akui didepan ayahnya, mau menutupi, ya?? Shige!! Aku tidak mengerti!! Sebenarnya aku ini sebagai apa!!!!”
“Sakura, bukan begi----…..” tuuut, tuuuut, tuuut.
“Sialan!! Koinnya habis!” Shige segera memasukkan koin lagi, dan memencet nomor telepon rumah Sakura. Tapi, kali ini tidak ada yang mengangkat.

Sementara, telepon itu berdering, Sakura terduduk di lantai, mengubur dalam-dalam mukanya dengan lengannya yang bertopang pada lututnya. Pundaknya bergerak naik-turun.
 

Chapter 3

Miyu sedang berjalan ke kelasnya, tiba2 tangannya ditarik. Miyu shock hampir jantungan.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada kami??" ternyata Takeshi dan Kusao.
"Ha?! Mengatakan apa?" Miyu bingung.
"Kalau Seara sudah menyukai orang lain!!" jawab Kusao.
"Apa?? Seara? Tidak mungkin...dia tidak pernah mengatakan ada orang yg disukainya pada aku, Hotaru dan Nana!!"
"Tapi, Takahashi kemarin mendengarnya dari mulut Seara sendiri!!"
"Hah?"

***

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan pada kami kalau ternyata ada orang yg kau sukai di luar sekolah ini?!" Miyu mendakwa Seara. Hotaru dan Nana yg ada disitu terkejut.
"Apa?!? Seara, ada orang yg kau sukai???" intonasi Nana naik-turun.
Hotaru menimpali, "Siapa??"
Diserbu begitu, Seara yg agak lugu, jadi bingung, "...kupikir, itu urusan kusendiri...."
mulutnya agak memonyong.
"Urusanmu sendiri?!? Sedangkan, kami sudah saling memberitahu masalah dan rahasia masing2....itu kan tidak adil!!!" Miyu tambah protes.
"Baik! Baik! Aku mengerti........maaf, aku telah berbohong..."
“E? Bohong? Pada kami?”
Seara menggelengkan kepalanya. Ketiga sahabatnya menunggu lanjutannya.
“Aku berbohong selama ini dan kemarin pada Takahashi…”
Nana, Hotaru dan Miyu tambah bingung.
Seara melanjutkan, “Sebenarnya, selama ini aku tahu tentang perasaan Takahashi, tapi karena aku hanya menganggapnya sebagai teman dan ingin keadaan tetap seperti apa adanya, aku berpura2 tidak menangkap maksud Takahashi…….maksudku, kalau aku bertingkah seperti aku mengetahui perasaannya, pasti aku tidak bisa berbicara seperti teman lagi dengan Takahashi, suasana akan terasa janggal, iya kan?” makin lama Seara makin emosi.
Ketiga sahabatnya mengangguk2, “He-eh, he-eh,”, “Iya…ya..”
“Lalu, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan….berbohong pada Takahashi kemarin kalau aku menyukai laki-laki lain…..”
“Ohhhhh…….” entah kenapa Nana, Hotaru dan Miyu lega, “…begitu, ya…”
Seara mengangguk sedih.
“Mmmm…..lalu kau tidak akan pernah berterus terang pada Takahashi, begitu?” tanya Hotaru.
“Sebaiknya bagaimana?” Seara balik bertanya.
Ditanya begitu, ketiga sahabatnya terdiam. Setelah beberapa detik hening, Miyu membuka suaranya, “Kalau kau tidak berterus terang, justru Takahashi yang sudah patah hati itu jadi enggan berbicara denganmu lagi…”
Seara agak terkejut, lalu memandang ke dua sahabat lainnya seakan meminta pendapat ke-2. Nana dan Hotaru mengangguk2, “Iya…aku setuju dgn Miyu…”
Seara menghela napas dan menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi.

***

“….jadi begitu, ya?” Takahashi tersenyum garing.
Seara mengangguk, “…..aku benar2 minta maaf……dan aku sangaaaatt berharap kita bisa berteman lagi, dan pulang bersama seperti biasanya….aku mohon!” Seara menundukkan kepalanya. Takahashi terdiam.
“Onegaishimasu!”  Seara makin menundukkan kepalanya.
Setelah beberapa saat, Takahashi tersenyum tulus, “Tentu saja!! Ahah! Jangan khawatir, kita akan berteman seperti dulu lagi!!”
Seara mendongak, “Hontou?”
“Uhm!!” Takahashi mengangguk positif.
“Yokata….”  Seara tersenyum lebar.

***

Sinar matahari masuk melalui jendela kamar Nana yg kemudian menyilaukan mata Nana. Pelan-pelan, ia membuka mata dan sambil menyesuaikan matanya dengan cahaya, ia melihat ke arah jam weker.
"Ngghh...jam setengah 9...." ia menutup matanya lagi.
Tiba-tiba, matanya terbuka lebar dan kembali meraih jam wekernya.
"Jam setengah 9?!?!?!?"
Nana langsung mengambil handuk dan lari ke kamar mandi. Ketika melewati ibunya di dapur, "Oka-san! Kenapa aku tidak dibangunkan!!!" sambil berlari.
"Eh? Nana...habis ibu pikir kamu tidurnya enak sekali, jadi tidak tega untuk membangunkan..." jawab ibunya setengah berteriak.
Dari kamar mandi, Nana menyahut, "Tapi kan aku sekolah! Uuuh..."

***

Nafas Nana memburu, mengayuh sepeda ke sekolahnya yang hanya 3 blok dari rumahnya. Begitu dekat, ia langsung turun dan menjatuhkan sepedanya begitu saja ke tanah, kemudian ia berlari ke pintu gerbang.
"Tungguuu! Jangan ditutup dulu!!!"
"Salah sendiri....makanya, bangunnya lebih pagi..."
"Tapi, Pak....tolonglah! Hari ini aku ada tes!" Nana membungkuk dalam-dalam memohon belas kasihan.
"Maaf, tapi ini peraturan sekolah...." Pak Nakamura, sang wakasek itu pergi berbalik.
Nana dengan pandangan masih memelas, terdiam di depan gerbang sekolah, tidak tahu harus berbuat apa.
"Waahhh! Sudah pakai mobil....tetap saja terlambat....yah, apa boleh buat...." terdengar suara laki-laki di belakangnya.
Nana menoleh, ia melihat Hiroki sudah berdiri di belakangnya. Hiroki dan Nana bertemu pandang.
"Eh....ternyata Nana, ah, halo!" kata Hiroki sambil agak melambaikan tangannya.
"Hiroki..." Nana agak terkejut dan tak bisa dipungkirinya, hatinya agak berdebar.
"Ehe...terlambat juga, ya..."
"Hhhhh.....iya...." kata Nana sambil duduk di depan gerbang sekolah dan mencoba bersikap wajar.
Hiroki ikut2an duduk disampingnya, ia menghela napas, "Yah...apa boleh buat...heh...padahal hari ini ulangtahunku..."
Nana terkesiap, "O-oh....begitu, ya..."
Hiroki tertawa kecil, "Iya! Tadinya aku mau menraktir teman2 sekelasku....tapi, ya sudahlah..."
"Maaf, ya..."
"Eh...mau tidak kutraktir lagi?"
"E?"
"Habis, sepertinya tidak ada satupun temanku yang bisa aku traktir, karena itu...kau saja yang kutraktir!" tiba2 Hiroki berdiri dan menarik tangan Nana.
"Eh?!" Nana agak bingung, "....tunggu dulu..."
"Ada yang musti kamu kerjakan???"
"....ehhh, sebenarnya tidak...tapi..."
"Kenapa lagi?"
"Aku...ngg...aku.."
"Heh! Jangan khawatir....pacarku tidak akan marah!" Hiroki tersenyum nakal.
Nana terkejut, tiba2 Hiroki tertawa.
"Haha! Tidak, tidak...bercanda, aku tidak punya pacar!!"
Nana berekspresi kesal, "Kau mempermainkan aku, ya!"
Ia masih tertawa, "Maaf, maaf...jangan marah...tapi...akhirnya bisa juga melihat wajahmu yang itu..."
"Wajahku?"
"Iya...itu, cemburu..eheh.."
Sejenak Nana terdiam, tiba2, "Hirokiiii!!"
Hiroki berlari menuju mobilnya yang berwarna merah itu, Nana mengikutinya.
"Nah! Ayo, silahkan masuk..." Hiroki membukakan pintu mobilnya.
Nana ragu-ragu.
"Tenang saja! Aku bukan tipe laki2 seperti itu..."
Nana memandanginya.
"Eh, takut, ya?" Hiroki tersenyum.
"Enak saja! Dengan mudah aku bisa membantingmu kalau kau bersikap kurang ajar!" Nana memasuki mobil itu. Hiroki tertawa, kemudian ia juga memasuki mobil itu dan mulai menyetir.
Nana memandangi Hiroki...lalu, pada saat itulah, Nana mulai mengerti perasaannya yang sebenarnya pada Hiroki..

***

"Waaahhh! Romantis sekali!" Seara berkomentar.
"Eh...lalu apa yang terjadi?" Miyu bertanya.
"Sudah aku bilang...tidak ada yg istimewa....kami hanya makan di Shinjuku, jalan-jalan sebentar, ke Tokyo Tower, kemudian pulang...."
"Dari atas melihat pemandangan gemerlapnya kota Tokyo dari Tokyo Tower...pasti berbohong kalau tidak ada yang istimewa..." Hotaru menimpali.
Nana memandangi Hotaru, "Apanya yg gemerlap...hari itu kan masih siang..."
"Eh, eh...Nana! Tapi Tokyo Tower itu tempat yg sangat sakral! Semua peristiwa bisa bermula dan berakhir disitu!" komentar Miyu.
"Kalau begitu...ini pasti awal kisah cinta Hiroki dan Nana!!" Seara seenaknya membuat kesimpulan.
"Aduuuh...sudah diam!" Nana agak kesal.
"Aku dan Hiroki tidak ada apa-apa, kemarin itu hanya kebetulan, kalau ada sinyal2 yg mencurigakan, itu hanya usaha dia untuk membuatku GR....itu saja..."
"Oooh...tapi, kau sendiri sebenarnya suka atau tidak??" tanya Hotaru.
"Itu...mmh.." muka Nana memerah.
"Tunggu dulu....'mmh'...itu artinya..." Seara menebak2, begitu juga 2 teman lainnya.
"AAAHHH!!! Akhirnya Nana mengaku juga!!!!!" Miyu langsung memeluk leher Nana.
"Eh, eh....aduuh....jangan heboh seperti ini, dong..." Nana mencoba melepaskan pelukan Miyu.
"Selamat! Selamat!" Seara meraih tangan Nana.
"Sudah, sudah...apanya yg 'selamat'...kalian ini..."
Tiba-tiba, Takahashi dkk menghampiri mereka. Ternyata yg maju Mamoru, dan dia menghampiri Hotaru.
"Ini! Bagianmu..." Mamoru menyodorkan setumpuk lembaran kertas.
"Eh??" Hotaru menerimanya dengan tidak pasti.
"Undangannya kan diserahkan ke kita berdua! Jadi kau juga harus mendapat bagian...bagaimana kau ini!" Mamoru agak kesal.
"Iya, iya...aku tahu! Jangan galak begitu..."
"Seminggu harus selesai...begitu kata ibu.."
Hotaru mengangguk. Lalu, Mamoru pergi bersama kawan2nya.
Hotaru membereskan setumpuk kertas2 itu dan menghela napas. Kemudian, ia baru sadar ketiga temannya sedang memandanginya dengan pandangan heran dan menunggu penjelasan Hotaru. Tapi, ekspresi Hotaru justru bertanya 'ada apa'.
"Nggh...kau akan menjelaskannya atau.....?" Nana memulai.
"Oh!! Ini! Aku belum memberitahu, ya...ternyata, wanita yang akan dinikahi ayahku itu...ibunya Mamoru..."
"HAAAAAAHHH????????" serentak ketiga temannya melotot.
"Dan kau tidak pernah memberitahukannya pada kami?!?!?" Miyu protes.
"Heyyy...aku saja baru tahu 2 hari yg lalu...kata ayah, aku akan dikenalkan saudara tiriku yg baru nanti, tidak kusangka ternyata calon saudara tiriku itu Mamoru..." Hotaru menjelaskan.
"Waahh...tidak kusangka..." Seara masih terheran-heran.
"Iya! Lagipula aku tidak begitu senang dengan keadaan ini...jadi aku akan sangat berterima kasih kalau kalian tidak membicarakannya, yah?!" Hotaru memohon.
"Iya, kami mengerti..."
Tiba2, bel tanda masuk berdering.
"Waaahhh!! Gawat! Aku belum belajar Sosiologi! Teman2, aku duluan, ya,"
Nana berlari mendului mereka, meninggalkan teman2nya yg menggeleng2kan kepala mereka.
"Eh...Hotaru, bukankah kau sekelas dengan Nana?" Miyu mengingatkan.
Hotaru memandanginya, tercengang, kemudian langsung berlari menyusul Nana. Seara dan Miyu tertawa, "Dasar Hotaru!"
"Eh, kita juga harus cepat! Pelajaran Ibu Sakura!" Seara menarik Miyu.
"Ah! Iya!"

***

Nana dan Shige sedang berjalan pulang. Nana menceritakan sebuah film komedi yang baru saja ditontonnya.
“Kemudian saat ayah Chiyo memergokinya, Ryunosuke sangat tegang!! Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi! Akhirnya….dia menaruh sake-nya di bawah dan langsung berlari tunggang langgang!! Lucu sekali!!! Baru kali ini aku melihat Yutaka Takenouchi memerankan karakter konyol seperti itu!!” Nana tertawa.
Tapi, ternyata yg diceritakan tidak bereaksi.
“Eh?? Shige?? Kau mendengarkan tidak?!”
Shige terkejut, “Ha?!”
Nana memonyongkan mulutnya, “Huuuhh….mulutku sudah berbusa menceritakan film itu, tapi kau sama sekali tidak mendengarkan!!”
“Ahh…maaf, aku benar2 minta maaf..aku…”
“Akhir2 ini, kau selalu terdiam…kenapa? Apa yang kau pikirkan?”
“Ehh…itu, tidak, tidak ada apa-apa,” Shige menyembunyikan sesuatu.
“Kalau kau punya masalah, katakan saja padaku! Akan kubantu,”
“Tidak…benar…tidak ada apa-apa,” Shige tersenyum sekilas lalu berjalan.
Nana terdiam dan memandang Shige dari kejauhan dengan kesal.
Lalu, Shige sadar Nana tertinggal dan tidak mengikutinya berjalan, lalu ia berbalik, “Nana? Kenapa kau? Ayo!”
Nana masih memandangnya kesal.
“Sungguh!! Aku tidak menyembunyikan apapun,”
Masih dari kejauhan, Nana agak berteriak, “Baik! Bersumpahlah dan katakan padaku tidak ada yang kau sembunyikan!!”
Shige agak canggung, “Kalau itu…..”
“Sudah kuduga…” Nana berjalan dengan cepat lalu melewati Shige.
Shige menarik tangannya, “Kenapa kau jadi marah?”
“Karena aku pikir kita ini sahabat dan berbagi segalanya! Aku sudah berbagi segala masalahku padamu….tapi ternyata, kau tidak berpikiran hal yang sama!”
“Tapi kan….”
Nana melepaskan tangannya dari tangan Shige lalu berjalan meninggalkan Shige.
Shige hanya dapat memandangnya dari kejauhan dengan kebingungan.

Ketika sampai di depan rumah, tiba2 Nana tersadar, “Ah….kenapa aku ini? Seharusnya aku tidak marah seperti itu pada Shige…..” Nana menyesali perbuatannya.

***

Setelah makan malam, Shige menghampiri rumah Nana.
Nana membuka pintu…dan terkejut, “Shige…”
“Bisa bicara sebentar?”

Mereka duduk di ayunan di taman bermain tidak jauh dari rumah mereka.
Hening berapa lama, bersamaan mereka memulai, “Aku…”, “Aku…”
Mereka berpandangan.
“Ah…maaf! Aku ingin minta maaf,” Shige memulai duluan.
“Ah, tidak! Aku yg minta maaf…aku sadar tadi siang aku menjadi egois sekali….”
“Tidak, tidak! Aku memang bersalah…benar…”
“Tapi---…”
“Dengarkan aku dulu….” Shige tidak mengizinkan Nana berbicara.
“Selama ini, aku tidak memberitahu tentang masalahku, karena aku pikir kau sibuk dengan koran sekolah……dan juga…..tentang masalah ini, kau….adalah….orang yg paling tidak bisa kuberitahu, karena….hal ini menyangkut dirimu,” Shige menjelaskan.
“Begitu, ya…”
“Tapi! Aku akan memberitahumu sekarang, kau benar….kita bersahabat, karena itu aku akan berbagi masalahku denganmu….”
“Ahhh!! Tidak, tidak perlu……kalau itu memang urusan pribadimu, tidak usah saja, aku memang tidak berhak mengetahuinya,” Nana mengelak.
Tiba2 Shige berdiri, dan agak berjongkok didepan Nana dan memegang tangannya, “Ketahuilah, selama ini aku…menyayangimu….”
Tubuh Nana terasa panas dingin, mendengar kata2 itu, jantungnya berdebar2 dan ekspresi Nana diantara bingung, terkejut dan bertanya2.
Sadar akan apa yg baru saja dikatakannya, Shige melanjutkan kalimatnya, “…..sebagai adik……eheh, aku….menyayangimu seperti adikku sendiri,”
Entah kenapa, Nana berekspresi lega, ”…..aku juga…sebagai kakak….” Nana membalas.
Mereka bertukar pandangan untuk beberapa detik. Lalu, Shige tersadar, dan melepaskan tangannya dari tangan Nana.
“Ah, maaf!” Shige malu sendiri.
Nana tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya, “…mmh….ii no,”
“Lalu, tentang masalahku itu…..begini, beberapa hari yg lalu, saat aku pergi bersama ayahmu, aku bertemu Sakura…”
“Eh?”
Shige mengangguk, “Tahu bahwa Pak Hayashi adalah ayahmu, dia langsung cepat2 pergi dari situ, dan seperti…marah…..”
“Benarkah?”
“Ketika aku telfon…benar saja, dia marah……menurutnya, aku terlalu dekat dengan keluargamu, seperti sudah bertunangan saja……”
Nana kaget mendengar cerita Shige, tak pernah Nana menyangka, Sakura akan marah seperti itu, padahal saat bertemu dengannya, terlihat orangnya pendiam, anggun, dan manis sekali.
“Lalu bagaimana….?”
“Lalu bagaimana? Ya, bagaimana lagi? Itulah yg kupikirkan selama ini, Nanaaaa….” Shige mengacak rambut Nana.
“Ohhh…iya, iya….kau sudah berbicara dengannya?”
“Apa yang akan kukatakan?”
“Katakan saja, minta maaf….lalu….”
“Kau pikir dia akan memaafkanku begitu saja……bagaimana kalau…..bagaimana kalau…….”
“Bagaimana kalau apa?”
“Ah, tidak…tidak..”
“Kan….mulai lagi….” Nana berpura2 kesal.
“Ehhh, iya, iya!! Maksudku, bagaimana kalau dia menyuruhku memilih….putus dengannya atau menjauhimu,”
Nana terdiam, lalu berkata, “Kalau benar begitu, kau akan memilih yg mana?”
Kali ini Shige yg terdiam, tapi tiba2 berkata, “Mungkin…..yg pertama…..”
“Eh?!”
“Dengan begitu, ibumu akan senang karena aku dapat menuruti permintaannya,” Shige tersenyum nakal. Nana sadar dia sedang bercanda.
“Kau ini!!!” Nana berusaha mencubit lengannya.
“Ehh…ehh, awas!” Shige dan Nana tertawa lepas.
Ketika tawa mereka mereda, Shige melihat ke atas.
“Eh, Nana…..tahu legenda Putri Shirahime tidak?”
“Mmhh….tunggu dulu, aku tahu Putri Kaguya, Tanabata, Urashima Taro….nggg…tidak, tidak pernah dengar Shirahime,”
“Putri Shirahime itu putri yg kesepian, suatu hari seorang kakek tua memberitahunya satu bintang terang diantara bermilyar2 bintang yg ada, suatu hari akan datang menjemputnya, dan ia tidak akan kesepian lagi. Lalu setiap malam dia selalu menunggu satu bintang terang akan menjemputnya,” Shige bercerita, “…bergantian ia memilih bintang2 yang ia inginkan untuk menjemputnya, tapi tidak ada yg mau membalas keinginannya, lalu ada juga satu bintang yg bersinar terang mendekatinya, tapi tiba2 meredup ditengah jalan,”
“Kasihan sekali….apakah akhirnya dia menemukan bintang yg mau bersinar terang untuknya?” Nana bertanya.
Shige mengangguk, “Uhm….setelah menunggu selama 100 tahun, akhirnya satu bintang bersinar terang menghampirinya dan menjemputnya, dan Putri Shirahime berbahagia selamanya,”
“Wah, ceritanya sangat simbolik!”
Tiba2, Shige bertanya, “Eh, sebenarnya ada laki-laki yg kau sukai tidak?”
“Aku?…mmh…” Nana ragu-ragu.
“Nah, kan……mau disembunyikan, ya….ahhh, sudahlah kalau begitu,” Shige pura-pura marah.
“Ehhh…iya, iya….jangan marah dulu!”
Shige langsung pasang ‘style’ mendengarkan.
“Itu…..ngg……dia sekelas denganmu….”
Shige terkejut, berpikir sebentar….lalu terbelalak, “Masaka!  Hiroki?”
Nana menunduk malu dan mengangguk. Tiba-tiba saja, Shige tertawa terbahak-bahak.
“Heiiii!! Kenapa tertawa?!”
Shige tidak menjawab, tapi terus saja tertawa. Nana memonyongkan mulutnya kesal.
“Maaf….maaf, hanya saja….tidak kusangka, orang yg kausukai ada didekatku setiap hari!!! Hehe….tapi kau tidak salah, Hiroki itu orang yg baik!” Shige tersenyum.
“Masa’?”
“Tentu saja……eh, sebelum Hiroki, siapa lagi yg pernah kau sukai di sekolah kita?”
“Mmh…” Nana ragu2 mengatakannya atau tidak, tapi dia berpikir, toh, sekarang aku sudah tidak menyukainya lagi, dan hanya menyayanginya sebagai kakak, mudah-mudahan dia tidak bersikap canggung….
“Sebenarnya….aku juga pernah……ngg….menyukaimu….” Nana mengaku.
Shige sedikit terkejut, Nana agak tegang menunggu reaksi Shige. Tiba2, “Naaaa!!! Ini baru menarik….ayo, ceritakan lagi, ceritakan lagi……”
“He?” Nana sama sekali tidak mengantisipasi reaksi ini.
“Kenapa kau menyukaiku waktu itu?! Pasti karena wajah tampanku…atau gayaku yg keren….atau….?” tanya Shige bersemangat.
“Ha?” Nana hanya bisa terbengong2, pikirnya, ajaib sekali laki2 satu ini.
 

Chapter 4

“Tadaima!”  Nana membuka pintu.
Ibunya menjawab dari dapur, “Okaeri!”
Nana mencium bau sedap dari dapur, “…mmm…..tunggu dulu, bau ini,”
Nana berjalan ke dapur, “Ibu! Aku tebak, Kak Saeki akan datang, yaaa!!!”
“Ehh…iya, karena itu ibu memasak sashimi ini, kesukaan kakakmu…”
“Waah, senangnya!! Sudah lama onii-san tidak pulang!” tiba2 Nana teringat sesuatu, “..ee..chotto …ibu, bagaimana dengan Kak Tetsuya?!”
“Ah, tenang saja…onii-chan akan pergi bersama temannya beberapa hari, waktunya tepat sekali, tidak ada yg perlu dikhawatirkan!!” ibu Nana tersenyum.
Nana lega, “….ahh…untunglah,”
Dia ingat terakhir kalinya, Tetsuya dan Saeki berada di ruangan yg sama, beberapa piring hampir pecah. Memang gawat dua kakaknya itu, kalau sudah beda pendapat.

***

Sakura membuka pintu, “…Shige-kun…”
“Sakura…aku ingin bicara sebentar….”
“Ung…tentu saja,” Sakura maju ke luar dan menutup pintu rumahnya, “Ada apa?” Sakura tersenyum.
“Itu…yg tempo hari, aku benar2 minta maaf, aku tidak tahu kalau hal itu akan sangat menyinggungmu, aku….”
“Shige-kun……aku tidak marah,” Sakura tersenyum manis.
“Eh?”
“Benar!! Aku yang seharusnya minta maaf…aku jadi sangat egois tempo hari, maafkan aku!”
“Ah…tidak, tidak….aku yang bersalah, aku….”
Sakura memotong, “Aku tidak berhak membatasi pergaulan Shige-kun, mulai saat ini aku hanya akan bergantung pada kesetiaan Shige-kun saja….mmh….aku akan selalu mempercayaimu….”
“Eh, itu….” Shige tersentuh mendengar kata2 Sakura, tapi walaupun begitu, Shige merasa ada yang aneh. Kenapa dia mudah sekali memaafkanku?

***

Miyu turun dari kereta subway  lalu berjalan menaiki tangga keluar dari stasiun. Tiba2 ketika sudah sampai diluar dia sadar kalau sejak turun kereta tadi ada yg mengikutinya terus sampai kesini.
Ia berhenti sejenak, dan ternyata orang itu juga berhenti, tapi Miyu tidak berani menengok ke belakang.
Miyu mempercepat langkahnya, ternyata orang itu juga mempercepat langkahnya. Makin lama Miyu berlari, dia mulai ketakutan, “Ya, Tuhaaann…selamatkan aku…”
Setelah berlari 3 blok, Miyu berhenti, dia menengok ke belakang, tapi ternyata orang itu sudah tidak ada. Miyu menghela napas dan menjatuhkan punggungnya ke tembok rumah dekat situ, “…hhh….sudah 3 hari ini….siapa, ya, orang itu?”

***

Nana sedang membantu ibunya menyiapkan makan malam di meja untuk menyambut kakak kedua-nya.
Tiba2, teleponnya berbunyi, Krrriing!!
Ibu Nana mengangkatnya, “Moshimoshi?” , “Ah! Ayah, belum pulang juga? Sebentar lagi Saeki sampai, lho!”, “EE?? Ibu? Pingsan? Ah, aku akan segera kesana!!”
“Ada apa?” Nana bertanya.
“Nenekmu pingsan, sekarang sedang dibawah ke rumah sakit, aku harus pergi,”
“Ah! Kalau begitu aku juga ikut!”
“Tidak, kau jaga rumah saja, nanti Saeki kan datang! Kalau keadaan nenek makin gawat baru aku akan meneleponmu!” ibu Nana terburu2 bersiap2.

“Jaga rumah, ya! Ittekimasu! ” ibu Nana melambai sambil berjalan cepat keluar.
“…ehh…itterashai …” Nana menjawab.
Nana berbalik lalu akan masuk ke dalam rumah saat seseorang berbicara, “Ada apa dengan ibu? Terburu2 sekali….”
Nana membalikkan badannya lagi, “Kak Tetsuya???”, Nana sangat terkejut, “Ke…ke…kenapa ada disini?? Bagaimana dengan acara bersama teman2nya??”
Tetsuya menghela napas, “…batal…ada kesalahan teknis!”
Tetsuya memasuki rumah. Jantung Nana berdebar2, “Ta..ta…pi…” Nana mengikutinya ke dalam rumah.
Tetsuya menaruh tas2nya di kursi, lalu melihat ke arah meja makan, “Wah!! Ternyata makan malam sudah siap, ya!”
Tetsuya melihat2 makanan yang disiapkan, “…ekkh…sashimi?! Bagaimana ibu ini….sudah tahu aku paling tidak suka sashimi,”
“Eh, itu…itu…” Nana mulai gugup.
Tiba2 ada yang membuka pintu, “Tadaima!!”
Nana membelalak, “Gawat!”
Tetsuya memandang Nana bingung, lalu berjalan ke pintu.
Tetsuya dan Saeki bertemu muka. Dan saling bertukar pandangan.
Suasana tegang, Nana menjawab Saeki dengan pelan, “……okaeri….”

***

Suasana terasa hening. Walaupun mereka hanya diam.
Tapi, terasa suasana perang dingin antara Tetsuya dan Saeki. Nana mencoba mencairkan suasana.
"Eh, kakak! Bagaimana proyeknya disana?? Apakah nanti kakak harus kembali ke sana?"
Saeki menjawab, "Ah, iya! Kelihatannya proyekku berjalan sangat baik, kalau sukses besar, aku pasti kembali kesana, tapi masih dua bulan lagi!"
"Wahhh! Kakak hebat! Semoga berhasil!" Nana melirik ke arah Tetsuya yang terlihat bertampang kesal, lalu Nana mencoba membesarkan hati kakaknya itu dengan bertanya, "Ah, Kak Tetsuya! Bagaimana dengan ciptaan lagu kakak yang kakak kirim itu??"
"Ituuu...sepertinya, responnya cukup baik....katanya, kalau tidak akan dinyanyikan Utada Hikaru, mungkin Amuro Namie...walaupun belum begitu pasti..." jawab Tetsuya.
"Eeeee??!? Hontou??? Ah, aku ikut senang!!!" Nana tersenyum lebar.
"Yaah...begitulah profesi seniman...semuanya tidak pasti.." Saeki menggumam.
Tetsuya mendongak, perhatiannya teralih dari mangkok nasi yang sedang dimakannya ke muka Saeki.
Ekspresinya tidak senang, tapi kemudian sambil mengaduk2 nasinya dengan sumpit, dia menyahut, "Heh...benar juga...profesiku memang tidak se-eksekutif profesimu....sayang juga, ya, dengan begitu aku tidak pernah merasakan kesuksesan hasil menjilat orang,"
Saeki mendongak cepat, agak marah, tapi kemudian wajahnya mencair kembali, "Yah, setidaknya aku tidak pernah bertindak brutal sampai dibawa ke kantor polisi,"
"Hei! Jangan hanya karena kau yang selalu disanjung ayah dan ibu, lalu kau kira kau bisa mengataiku seenaknya!" Tetsuya mulai lepas kendali.
"Mengatai?? Siapa yang mengataimu? Itu kan fakta! Akui saja, sejak SMA tindakanmu tidak ada yang benar, selalu meyusahkan orangtua...bagaimana mau disanjung!"
Nana mulai gelisah, dan menggumam, "...gawat..."
Tetsuya langsung menyahut, "Haah...baiklah, Tuan Pangeran sekaligus Putra Mahkota Hayashi Yang Terhormat! Tetsuya yang rendah ini memang tidak sepadan dengan sang pangeran keluarga ini!! Aku memang tidak pandai menjilat orangtua sendiri..." Tetsuya tersenyum sinis.
"Hei! Kenapa kau tidak mau mengakuinya?? Aku ini memang lebih berhasil daripada kau!! Lihat saja, aku sudah bolak-balik, Tokyo-Los Angeles, untuk mengurus pekerjaanku...sedangkan, kau masih disini-sini saja....itu semua, karena aku bekerja keras!" Saeki mulai panas.
"Ooohh...jadi menurutmu aku tidak bekerja keras, begitu?!"
"Ya, itu juga...tapi mungkin, karena otakmu juga yang tidak sampai...."
"APA??? Aku ini lulusan Teknik Informatika!!!"
"Dua kali hampir di-drop-out dan lulus dua tahun lebih lambat dari semua temanmu...sukses?? AKU RASA TIDAK!! Kenapa?? Otakmu jalannya memang lambat!"
Tetsuya terdiam. Tiba2 dia tertawa kecil, "Kau tahu tidak?? Berbicara tentang otak yang lambat...aku jadi ingat seorang adikku yang sampai umur 24 thn, sudah mempunyai mobil mewah, tapi hanya tahu dua rute...rumah...kantor.....kantor...rumah...rumah...kantor.....kantor...rumah.."
Kali ini Saeki yang terdiam. Tapi, akhirnya ikut tertawa kecil, "Haha, tiba2 aku teringat seorang kakakku yang mengira bahwa ayahlah yg melahirkan anak, sampai umur 10 tahun...hahaha..."
Tetsuya kesal, tapi lalu ikut tertawa, "Heheh...lucu, itu lucu...tahu tidak, adikku menyombongkan mobilnya didepan seorang gadis lalu menawarkannya untuk diantar pulang, tapi setelah sampai dirumah gadis itu, dia tidak tahu jalan pulang dan terpaksa menunggu untuk dijemput olehku! Hahahah!!"
Nana menghela napas dan memegangi dahinya. Sedangkan, Saeki ikut tertawa garing, tapi lalu berubah menjadi wajah marah, dan menyambar, "KAU TIDAK TAHU CARANYA MEMBACA JAM SAMPAI UMUR 13 TAHUN!"
Tetsuya kaget, lalu menyahut, "SAMPAI SAAT INI KAU BELUM BISA BERENANG!!"
Saeki terkejut, lalu dia balas, "SAMPAI SAAT INI KAU BELUM BISA NAIK SEPEDA!!!"
"APA---!," Tetsuya berpikir sejenak, "...SELAMA 24 TAHUN HIDUPMU, KAU BARU BERPACARAN SEKALI!!"
"KAU!! KAU.....KAU MERAYU WANITA YANG TERNYATA MEMPUNYAI JAKUN!!"
Tetsuya sangat terkejut nan malu, "Hei.....malam itu sangat gelap...."
Tanpa ampun, Saeki menyambar lagi, "Umur 5 tahun, kau memakan 'pup'-mu sendiri!!!"
Muka Tetsuya merah padam, tapi lalu dia menyadari sesuatu, lalu berkata agak pelan, "Tunggu...itu kan...kamu...?"
Saeki yang tadi sudah merasa menang, langsung terdiam.
Nana memutar bola matanya, "Ya, Tuhan...", lalu menjatuhkan dahinya ke meja.

***

“Uso! ” Shige terbelalak.
Nana mengangguk.
“Wah! Keadaannya pasti gawat sekali kemarin malam,” komentar Shige.
“Yah, begitulah….tapi, untungnya, kali ini tidak ada yg pecah,” Nana tersenyum.
Shige tertawa kecil.
“Eh, Shige….bagaimana dengan Sakura?”
“Oh, itu…kemarin aku sudah berbicara dengannya….”
“Lalu?”
“Tak disangka, ternyata dia sudah memaafkanku dan tersenyum terus,”
“Oya??? Yokata ja…. ”
“Yah, mungkin aku memang laki-laki yang selalu menebar pesona sehingga sulit untuk ditolak, jadi….”
“Shigee!!” Nana mendorong Shige. Mereka tertawa.
“Eh, rambutku sudah mulai panjang, sebaiknya dipotong lagi atau tidak, ya?” Nana minta saran.
“Panjangkan saja!”
“Kenapa?”
“Biar kelihatan lebih feminin,”
“Memangnya sekarang tidak terlihat feminin?”
“Ngg….chigau , maksudku, kalau berambut panjang lebih terlihat kewanitaannya,”
“Mmmm……selera Shige wanita2 yang feminin sekali, ya…”
“Tentu saja wanita feminin, kalau wanita jantan, nanti aku kalah jantan kan tidak lucu!”
Nana tertawa mendengar perkataan Shige.
“Kenapa tertawa?”
“Baka !” Nana mengatai Shige sambil tertawa.

***

(Sampai disini dulu, ya ^_~)